Sorry Not Everyone Can Play Manager Band by : Robin Malau (BengkelMusik)

Fenomena Manajer Band dan Mensejajarkan Gaji Manajer Band dengan Manajer Perusahaan Multinasional

Fenomena manajer band tidak terjadi begitu saja di Indonesia. Ini terjadi karena globalisasi musik barat yang semakin meningkat serta perubahan makro sosial ekonomi dan politik yang merubah cara pikir masyarakat Indonesia. Tentunya industri musik Indonesia juga ikut kena dampaknya, berkembang dan menyebabkan permintaan (demand) sumber daya dengan keahlian-keahlian khusus. Demand ini salah satunya pada stakeholder industri musik, yaitu Artist Management (atau sebut saja manajer band).


So yes, it’s on!
Penghasilan beberapa manajer band tentu dapat disejajarkan dengan gaji manajer perusahaan multinasional, tetapi yang pasti, manajer band merupakan seseorang yang berpotensi untuk menjadi wirausahawan atau memiliki perusahaan sendiri. Karena, pertama, seorang manajer band bisa mendirikan dan mendaftarkan sendiri perusahaannya (misalnya perusahaan Artist Management) nya, dan bisa jadi manajer lebih dari 1 band, bahkan bisa bisnis lainnya juga. Jadi, sebagai wirausahawan, manajer band bicara keuntungan (angka-angka paling bawah di statement laba rugi), bukan gaji, seperti manajer perusahaan multinasional. Dan kedua, sumber laba manajer band adalah persentasi keuntungan band, bukan gaji dari band.

Kalaupun misalnya manajer band bergaji, gaji manajer band setingkat DEWA bisa jadi sudah bisa disejajarkan dengan manajer perusahaan multinasional (dengan catatan; status regional labour; level manajer departemen; perusahaan multinasional berkantor di Indonesia).

Manajer Band Tidak Memerlukan Titel Tertentu dan Background; Many Have Tried and Failed!


Dalam rule of thumb di semua buku pedoman maupun pelaku bisnis manajer band yang saya temui, meskipun bisa menjadi kelebihan tersendiri, titel pendidikan tertentu memang tidak diperlukan. Lagipula, di Indonesia belum ada gelar akademik khusus untuk seseorang yang memiliki kemampuan manajemen bisnis musik. Tetapi background pengetahuan manajemen secara praktis harus dimiliki manajer band. Manajer band yang sukses adalah manajer yang bisa mengoptimalkan pengetahuan manajemen bisnis musik yang spesifik namun sederhana.


Tugas Manager Band Sebagai Pengelola Stakeholder Internal dan Eksternal

Seperti yang SSF sampaikan mengenai tugas sejati seorang manajer (paragraf 2), pada hakikatnya adalah POAC – Planning, Organizing, Actuating, Controlling (dalam ilmu kepemimpinan disebut POAL; L = Leading). Pada hakikatnya, sebenarnya job description dari manajer band adalah ‘managing internal personnel’, sementara hubungan dengan pihak luar adalah tugas Music Agency (agent). Hanya, model seperti itu belum berjalan di Indonesia, sehingga, kebanyakan manajer band di Indonesia menjadi agent juga.

Jadi, untuk urusan internal, setidaknya seorang manajer band harus tahu dasar-dasar atau prinsip-prinsip akuntansi keuangan, manajemen strategi, sumber daya manusia, operasi, keuangan, penyusunan perencanaan bisnis serta kepemimpinan organisasi. Prinsip yang terakhir sangat dibutuhkan untuk memanage hubungan interpersonal; misalnya memberi nasihat, membangun suasana agar tetap menjadi organisasi kreatif, menjaga agar band tidak pernah sampai ke titik jenuh, taktik delegasi yang efektif, membangun team work hingga pengambilan keputusan.

Sementara fungsi manajer band yang berhubungan dengan pihak luar sebagai ‘Public Relation’; seorang manajer band setidaknya harus tahu dasar-dasar manajemen pemasaran.
Semakin besar dan sukses band yang dimanage, semakin luas pula pengetahuan dan kemampuan manajerial yang dibutuhkan seorang manajer band untuk dapat bertahan.

Pernyataan:


Jika sekiranya pihak label records tertarik, maka tugas selanjutnya adalah memberikan nasihat serta petunjuk kepada para personel mengenai kontrak yang akan ditandatangan antara band dengan label. Karena biasanya sangat jarang terjadi seorang manajer ikut menandatangani kontrak dengan label records (Paragraf 10).


Bagaimana mungkin seorang manajer band dapat menasihati dan memberi masukan pada band yang akan tandatangan kontrak album rekaman (label), jika manajer itu tidak punya background pengetahuan? Setidaknya manajer band harus punya pengetahuan tentang hukum (entertainment law; copyright dsb).

Sehingga manajer dapat melakukan assesment kontrak yang akan ditandatangani secara menyeluruh. Manajer band dapat memberikan nasihat yang objektif dan terukur kepada band, dengan terlebih dahulu mengukur elemen-elemen; jangka waktu, sistim royalty, hak dan kewajiban kedua pihak. Kontrak itu yang akan mendasari hubungan bisnis dengan perusahaan rekaman, serta sebagai panduan bagi manajer band untuk merancang strategi bisnis band sepanjang masa kontrak.


Lagi pula, sekedar informasi, sebagian besar manajer band ikut tandatangan kontrak, biasanya sebagai saksi. Kemudian sang manajer band ditunjuk sebagai wakil band untuk urusan korespondensi dengan perusahaan rekaman. Jadi manajer band terlibat langsung dengan penandatanganan kontrak band dengan label.


Memang pada prakteknya banyak label yang tidak mau berurusan dengan manajer, melainkan berhubungan langsung dengan personil band. Ini disebabkan karena kebanyakan manajer band hanya menjadi ‘penghias’ dari band, dan tidak melakukan tugas-tugas manajerial. Dan saya tidak setuju mereka itu disebut manajer band; mereka lebih pantas disebut ‘asisten’ (atau mungkin sekretaris).


Tetapi, seiring meningkatnya minat orang-orang yang berpengalaman dan berpendidikan manajemen menjadi manajer band, serta meningkatnya kemampuan manajer band secara umum, beberapa label besar sudah mulai menyerahkan urusan-urusan manajemen band kepada manajer band.


Kita semua sudah cukup mendengar cerita horor tentang band yang salah sign kontrak, terikat kontrak jangka panjang dan menjalankan tahun-tahun tidak produktif. Ini bukan salah kontraknya, tapi sebagian besar karena salah bandnya yang terburu-buru dan manajer band tidak memiliki pengetahuan.


Kesimpulan, Masukan dan Saran:
  1. Sebaiknya seorang manajer band punya background pengetahuan manajemen & hukum bisnis. Pengetahuan tersebut bisa didapat dari sekolah atau cari referensi sendiri dan jadi street smart. Sebenarnya ini peraturan yang berlaku untuk manajer dimanapun, bukan hanya manajer band.
  2. Memiliki manajemen yang kuat juga bukan berarti menjamin kesuksesan. Contoh; awal kesuksesan Peter Pan dan Sheila on 7 bukan karena memiliki manajemen yang kuat, tetapi memiliki lagu hit yang kuat. Manajemen band pada kasus ini tentunya lebih melakukan pekerjaan yang bersifat klerikal, bukan manajerial. Tetapi setelah band-band tersebut sukses, maka perlu dibentuk manajemen bisnis yang kuat, yang mampu mempertahankan kesuksesan band tsb.
  3. Melakukan kegiatan promosi band, jangan asal sensasional tanpa punya value (dalam hal ini musikalitas dan konsep yang kuat), no wonder this country becomes infotainment nation!
  4. Meminjam istilah Radiohead, ‘Anyone Can Play Guitar’, maka SSF pun mengatakan ‘Anyone Can Play Manager’. Menurut saya, istilah ini ngga bisa digeneralisir. Mohon mencari padanan kata yang sesuai. Untuk seorang manajer, kata ‘manajer’ itu cukup keramat, dan akhir-akhir ini sering memiliki pengertian yang klise akibat overused.
Saya tidak meragukan sedikitpun pengetahuan dan kemampuan Street School Forum. Saya sudah baca beberapa artikel sebelumnya, and i found some really interesting things. I know you guys are street smart practitioners, you gain knowledge from the street and gain a success in business (i truly believe you are).


Tapi jika boleh memberi saran, sebaiknya sebelum menjawab pertanyaan untuk topik yang spesifik seperti ini, ada baiknya menggali dulu informasi dari para pelaku atau setidaknya buku-buku pedoman.


Previous
Next Post »